Single Mom di Indonesia: Bertahan Hidup Setelah Perceraian Itu Tidak Mudah

Ilustrasi perempuan single mom yang sedang berjuang menghadapi dampak imbas perceraian dan yakin bisa bangkit.
Single mom pada dasarnya orang yang kuat, jadi jangan menyerah karena kamu mampu

Aku mau share sedikit tentang perceraian di Indonesia. Ini berdasarkan data dan pemikiranku yang juga single mom dan menghadapi tekanan sosial dan ekonomi. Pendapatku tentang gambaran dari Perempuan Indonesia, khususnya Single Mom (apalagi yang tidak diberi tunjangan Ibu dan Anak).

Jadi, perceraian di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Di balik angka-angka itu, ada banyak perempuan yang harus memulai hidup dari nol lagi sebagai single mom. Mereka bukan hanya menghadapi patah hati, tetapi juga tekanan ekonomi, mental, sosial, bahkan stigma masyarakat.

Banyak orang mengira setelah perceraian selesai di pengadilan, hidup akan langsung membaik. Padahal kenyataannya, justru perjuangan besar sering baru dimulai setelah status “janda” muncul di kartu identitas sosial masyarakat.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Mahkamah Agung beberapa tahun terakhir, angka perceraian di Indonesia masih tinggi, dengan ratusan ribu kasus setiap tahunnya. Uwow banget kan?! Mayoritas penggugat perceraian bahkan datang dari pihak perempuan. Ini menunjukkan bahwa banyak perempuan akhirnya memilih keluar dari hubungan yang tidak sehat, walaupun konsekuensinya berat.

Dan yang paling terdampak biasanya adalah ibu.


Single Mom dan Tekanan Ekonomi

Melihat angka, pelan tapi bisa. Semua ada jalannya.

Gak semua perempuan yang bercerai memiliki pekerjaan tetap atau aset pribadi. Banyak yang selama bertahun-tahun menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Mereka mengurus rumah, anak, kebutuhan keluarga, tetapi tidak memiliki penghasilan sendiri.

Saat perceraian terjadi, hidup berubah drastis. Tapi kebanyakan mereka memang tidak punya pilihan selain bercerai, hanya semata-mata untuk melindungi diri.

Nah, tiba-tiba mereka harus:

  • memikirkan biaya sekolah anak,
  • biaya makan,
  • tempat tinggal,
  • kesehatan,
  • bahkan kebutuhan sehari-hari sederhana.

Hal ini membuat banyak single mom mengalami penurunan ekonomi setelah perceraian. Sayangnya di Indonesia tidak seperti diluar negeri, yang memiliki kesempatan bekerja dengan waktu yang fleksibel dan tidak melihat umur, dan juga dibayar dengan sangat layak. 

Bagaimana tidak bingung, biaya daycare bisa selangit dibanding penghasilannya perbulan. Belum lagi banyak berita-berita yang membuat takut Ibu-ibu untuk menitipkan anaknya pada orang lain. 

Mau gak mau, Ibu harus dirumah atau sewa pembantu untuk menjaga anaknya, jika ingin bekerja. Banyak sekali pertimbangan, sehingga sebagian besar Ibu di Indonesia memilih mengurus rumah tangga. Beda sekali situasinya jika kita tinggal di Eropa atau negara maju lainnya. Jelas lebih mudah dalam hal perekonomian.

Karena itu, ketika perceraian terjadi, banyak perempuan merasa seperti kehilangan “tanah pijakan”.

Belum lagi stigma sosial yang masih cukup kuat di Indonesia, terutama di kota kecil. Single mom sering dianggap:

  • terlalu bebas,
  • rentan digoda,
  • dianggap gagal,
  • atau bahkan dipandang sebelah mata.

Padahal sebagian besar dari mereka hanya sedang berusaha bertahan hidup.


Dampak Mental Setelah Perceraian

Dampak mental yang semua orang tidak mengerti. Ingat selalu, ini cuma sementara.

Perceraian bukan hanya masalah hukum atau status. Dampaknya sangat besar terhadap kesehatan mental.

Banyak single mom mengalami:

  • anxiety,
  • overthinking,
  • kehilangan percaya diri,
  • depresi ringan hingga berat,
  • burnout,
  • bahkan kehilangan arah hidup.

Apalagi jika perceraian terjadi setelah pernikahan panjang.

Hidup yang sudah dibangun bertahun-tahun tiba-tiba runtuh. Rutinitas berubah. Lingkungan berubah. Keuangan berubah. Dan sering kali, perempuan harus tetap terlihat kuat demi anak-anaknya.

Inilah alasan kenapa proses bangkit setelah perceraian tidak bisa disamakan untuk setiap orang.

Ada yang cepat pulih.
Ada yang butuh bertahun-tahun.

Dan semuanya gak ada yang salah.


Apa yang Sudah Dilakukan Pemerintah?

Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah memiliki beberapa program yang bisa membantu perempuan dan single mom, walaupun implementasinya masih belum merata.

Beberapa di antaranya:

  • bantuan sosial,
  • pelatihan UMKM,
  • program pemberdayaan perempuan,
  • Kartu Prakerja (maaf saya udah coba 3x, tidak pernah dapat)
  • bantuan pendidikan anak,
  • dan akses layanan kesehatan melalui BPJS.

Namun dalam praktiknya, masih banyak single mom yang:

  • tidak tahu informasi program,
  • kesulitan akses dan ini SANGAT NYATA

Selain itu, dukungan mental health untuk perempuan pasca perceraian juga masih sangat minim dan cukup mahal untuk sebagian masyarakat.

Padahal pemulihan mental sangat penting sebelum seseorang bisa kembali produktif secara ekonomi.

Saya cuma bisa menghela nafas. Sebegitu menyedihkannya kah sistem di negara ini? Saya gak ngerti lagi.


Apa yang Bisa Kita Improve?

Menurutku, Indonesia masih perlu lebih banyak ruang aman untuk perempuan yang sedang membangun hidup kembali.

Kita terlalu fokus menyuruh perempuan “cepat bangkit”, tapi jarang benar-benar menemani prosesnya.

Yang perlu diperbaiki bukan hanya sistem ekonomi, tapi juga cara masyarakat melihat single mom.

Kita perlu:

  • lebih banyak support group,
  • edukasi mental health,
  • pelatihan kerja yang realistis,
  • akses daycare yang terjangkau,
  • dan lingkungan yang tidak menghakimi perempuan setelah perceraian.

Karena jujur saja, stigma sosial kadang lebih menyakitkan daripada perceraiannya sendiri.


Sebagai Single Mom di Indonesia, Bagaimana Cara Bertahan?

Aku rasa tidak ada jawaban yang benar-benar sempurna. Karena setiap perempuan punya kondisi berbeda.

Tapi ada beberapa hal yang menurutku penting.

1. Jangan malu meminta bantuan pada keluarga dan teman

Meminta bantuan itu normal, materi ataupun moral. Dalam keadaan seperti ini, kita tidak boleh egois, kita perlu juga melihat anak-anak kita yang butuh biaya sekolah, makanan dan lain-lain. Tentunya dalam perhitungan yang wajar dan buatlah rencana ke depan tentang keuangan (ide bisnis, dll), agar keluargamu tau kamu sedang berjuang, bukan sekedar memohon bantuan.

Selain itu, bagi keluarga dan teman yang membantu, mungkin akan merasakan bahwa mereka memberi manfaat bagi orang lain. Memang rasanya sangat tidak enak, tapi ketika kita sudah berhasil (dan yakin bisa berhasil), kita bisa menolong orang lain juga yang membutuhkan. 

2. Jangan malu memulai dari kecil

Kadang kita terlalu gengsi untuk mulai lagi dari nol. Padahal semua proses besar selalu dimulai dari langkah kecil. Jualan kecil-kecilan, freelance, bikin konten, menulis, affiliate, UMKM, remote work—semua itu valid.

3. Jangan terlalu keras pada diri sendiri

Banyak single mom hidup dalam mode survival terlalu lama. Mereka merasa harus kuat terus. Padahal capek itu manusiawi. Istirahat bukan berarti gagal.

4. Cari support system

Tidak harus banyak. Satu atau dua orang yang benar-benar mendukung tanpa menghakimi sudah sangat membantu kesehatan mental. 

5. Belajar skill baru

Aku tau gak gampang untuk belajar hal baru. Jelas gak gampang, apalagi banyak sekali yang kita pikirkan, tapi pelan-pelan ya. Belajar lagi dari TikTok, YouTube dan Platform lain. Kalau kamu terlalu berat untuk belajar, kamu bisa mulai dari menulis di blog seperti aku dan mungkin bisa tulis ceritamu di webnovel. Sekalian journaling (terapi) sambil menghasilkan. 

Menulis, desain, editing, social media, virtual assistant, jual digital product—semua bisa dipelajari pelan-pelan dari rumah. Mungkin hasilnya tidak instan, tapi bisa menjadi jalan baru.

6. Rawat mental health

Ini penting banget. Karena untuk menghasilkan uang pun, jiwa kita harus cukup ringan untuk berpikir. Kalau mental benar-benar hancur, semuanya terasa berat. Healing bukan kemewahan. Itu kebutuhan.


Kesimpulan dari aku..

Menjadi single mom di Indonesia memang tidak mudah. Ada tekanan ekonomi. Ada stigma sosial.Ada rasa takut tentang masa depan. Tapi banyak perempuan yang diam-diam tetap bertahan setiap hari.

Mereka bangun pagi walaupun mentalnya lelah. Mereka tetap tersenyum di depan anaknya walaupun sedang takut soal uang. Dan menurutku, itu bentuk kekuatan yang luar biasa.

Jadi kalau hari ini kamu sedang ada di fase membangun hidup lagi setelah perceraian… pelan-pelan ya. Kamu tidak gagal. Kamu hanya sedang belajar berdiri kembali dengan versi dirimu yang baru :)

Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.

Komentar