Hai! Kenalan yuk.. namaku Ika, Mamanya Lili

Di usia yang mendekati 44 tahun bulan ini, aku justru merasa sangat bersyukur. Tahun lalu adalah tahun yang… campur aduk. Ada hal-hal yang menyenangkan, tapi juga cukup menghantam. To be honest, tahun lalu adalah tahun kebangkitan buatku, walaupun prosesnya nggak selalu mulus.

Setelah hampir dua tahun berpisah dengan suami, tanggal 15 Januari ini aku akan mendapatkan putusan dari pengadilan. Gugatan yang kuajukan dikabulkan. Artinya, aku resmi bercerai. Bukan sesuatu yang ingin dirayakan, tapi ini adalah penutup yang memang harus terjadi.

Tidak ada orang yang ingin bercerai. Tapi tidak ada juga yang mau hidup di posisi penderitaan yang terus-menerus. Jadi aku memutuskan untuk berpisah.

Walaupun begitu, saat ini hubungan kami baik-baik saja. Dia sudah melepaskanku, aku juga. Kami mulai menjalani hidup masing-masing dengan lebih tenang, dan itu patut disyukuri. Anak dari perceraian adalah korban. Ya, betul. Aku tidak menyangkal itu. Tapi aku juga percaya, kalau aku dan mantan suami tetap bersama dalam kondisi yang tidak sehat, anak pun tetap menjadi korban, bahkan dengan dampak emosional yang bisa lebih berat dalam jangka panjang. Jadi perpisahan ini adalah pilihan terbaik, terutama untuk kesehatan mentalku dan anakku.

Aku jujur saja, hal ini sangat tidak mudah. Menjadi single mom untuk anak perempuan berusia 13 tahun itu benar-benar tidak gampang. Tapi aku bersyukur, anakku termasuk anak yang cukup paham dengan situasi ini. Ya, mungkin belum paham sepenuhnya (namanya juga anak), tapi dia mengerti satu hal penting: mamanya butuh hidup yang lebih baik dan lebih aman. 

Sekali lagi, ini tidak mudah. Apalagi kalau single mom tidak memiliki pendapatan yang stabil, itu bisa menjadi masalah baru yang sangat menguras energi. Aku sendiri masih belum stabil secara finansial. Saat ini aku sedang membangun bisnis baru, dengan harapan semoga bisa berhasil ke depannya. Karena selama hampir 15 tahun menikah, mimpi-mimpiku terkubur sangat dalam. Sekarang, ini waktuku untuk bangkit dan mulai mengejar mimpi itu pelan-pelan.

Untuk kamu yang sedang mengalami apa yang pernah kualami: jangan takut. Carilah support system-mu: keluarga, teman, tetangga, siapa pun yang bisa menopang hidupmu sementara waktu, baik secara mental, tenaga, bahkan finansial. Ini bukan soal ego. Ini adalah cara bertahan hidup. Ini adalah cara mencintai diri sendiri, agar kita tidak jatuh ke dalam kelelahan, ketidakwarasan, atau penyakit yang perlahan bisa menghabisi kita.

Dan satu hal penting: anakmu, dan orang-orang yang mencintaimu tidak ingin melihat kamu hancur demi bertahan di tempat yang salah.

------------------------
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.


Komentar