Bahkan Buat Diri Sendiri Itu Hal Memalukan

Beberapa hari yang lalu, aku mengalami momen yang cukup memalukan buatku. Entah karena harga diriku terlalu tinggi, atau karena aku sudah terlalu lama berpura-pura kuat. Yang jelas, akhirnya aku nangis juga, dan bukan nangis cantik ya di depan Tante dan Omku.

Jujur aja, aku memang sudah nggak kuat. Dua bulan terakhir aku sering nangis sendirian. Puncaknya dua minggu lalu, aku gelisah sampai ngomel sendiri di dalam hati,“Hidup kok gini amat sih?”. Kayak hidup tuh sengaja ngetes kesabaran, tapi lupa ngasih jeda.

Dengan sisa keberanian yang ada, aku kirim pesan ke Tante dan Omku, yang selama ini sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri untuk minta izin bertemu. Tujuannya jelas: aku mau menawarkan rumahku untuk dijual. Maluuu banget sebenarnya, karena aku pernah dibantu pada saat masih berumahtangga. Tapi mau gimana lagi. Bukan karena pengin, ya. Tapi karena memang aku sedang ada dalam situasi "survival mode".

Di kepalaku, rencananya sangat masuk akal. Rumah dijual, uangnya dipakai buat biaya hidup, bangun usaha, sewa tempat yang lebih kecil, dan (yang paling penting) investasi pendidikan anakku nanti. Dalam kondisi ekonomi kayak sekarang, menurutku itu solusi paling rasional.

Beberapa hari sebelum ketemu mereka, entah dapat tenaga dari mana, aku malah sempat bikin proposal berjudul “Penjualan Rumah”. Lengkap. Keunggulan rumah, lokasi, akses, fasilitas umum, sampai grafik tren perkembangan kota berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Dalam hati aku cuma mikir, “Ya Tuhan, makasih ya… di kondisi begini aku masih bisa mikir.”

Tapi ya… semua teori itu langsung rontok begitu aku duduk di depan Tante dan Omku. Belum ngomong apa-apa, air mata sudah tumpah duluan. Padahal aku sudah niat: ingat, kamu ini penjual, bukan pemohon.Sudah aku tanamkan mantra itu berhari-hari.

Sayangnya, emosi lebih cepat dari logika. Air mata keburu tumpah. Dan ya… it is what it is.

Setelah aku menjelaskan dengan suara terbata-bata, Omku cuma menjawab singkat, “Kalau beli, nggak lah.” Dan jujur aja, aku sebenarnya sudah tahu jawabannya. Omku lalu memberi saran supaya rumahnya dipercantik dan dipasarkan ulang lewat platform properti. Saran yang benar. Masuk akal. Profesional. Masalahnya satu: iklan butuh duit. Dan ya… kalau lagi nggak punya duit, mau iklan pakai apa?

Saat ini, yang bisa kulakukan cuma share ke grup WhatsApp dan kontak beberapa agen properti. Itu saja. No fancy marketing. Di momen itu, dengan mata sembab dan hati berantakan, aku merasa kecil. Kecil banget. Seperti orang yang sedang “memohon” agar hidupnya dan hidup anaknya bisa sedikit lebih ringan.

Dan di situ aku kembali sadar: tidak semua orang bisa memahami hidup sebagai single mom. Dan itu nggak apa-apa. Mungkin sekarang aku memang perlu menjalani hidup dengan cara yang lebih sederhana. Tenang. Nggak berisik. Nggak perlu menjelaskan ke semua orang.

Catatan kecil untuk diriku sendiri—dan kamu yang lagi berjuang juga:

Iman tanpa perbuatan itu mati.
Kalau kamu mau sesuatu, kejar.
Kalau capek, berhenti sebentar.
Kalau lagi benci sama semua orang, mundur dulu.

Itu bukan egois. Itu namanya menjaga diri sendiri. Nggak semua pendapat perlu didengar. Nggak semua nasihat perlu dianggukin sambil senyum. Lakukan apa yang menurutmu benar, selama jalannya lurus, untuk dirimu dan untuk anakmu. Aku juga akhirnya sadar: mungkin aku terlalu keras sama diri sendiri. Sekarang aku memilih buat melambat.

Aku nggak mau dan nggak lagi terlalu peduli dengan opini siapa pun, termasuk keluarga. Karena yang benar-benar tahu situasi ini cuma aku. Dan tentu saja, Tuhan. Tapi kadang aku merasa nggak bisa dengar suara-Nya. Mungkin karena aku terlalu berisik. Atau mungkin Tuhan lagi kasih aku waktu buat benar-benar kenal diri sendiri. Yah, apa pun itu, aku tetap bersyukur, karena di tengah semua kekacauan ini, aku masih punya Tuhan.

------------------------
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.

Komentar