Perceraian itu bukan sesuatu yang gampang dilewati begitu aja. Apalagi kalau usia pernikahannya sudah lama.
Semakin lama sebuah pernikahan berjalan, semakin banyak bagian hidup yang ikut menempel di sana. Kebiasaan, rutinitas, rencana masa depan. Bahkan kadang identitas diri kita sendiri.
Makanya waktu semuanya selesai, yang hilang bukan cuma pasangan, tapi juga arah hidup.
Dan menurutku, yang paling berat adalah ketika seorang perempuan keluar dari pernikahan tanpa punya aset atau penghasilan sendiri.
Terutama ibu rumah tangga.
![]() |
| Mumet mikirin uang biar stabil keuangan sebagai single mom |
Banyak orang masih suka meremehkan pekerjaan ibu rumah tangga. Padahal ya… coba deh satu minggu aja semua ibu rumah tangga berhenti kerja. Baru kerasa paniknya orang rumah. Pekerjaan mereka itu nyata.
Bangun paling pagi, tidur paling akhir, memastikan isi rumah berjalan baik, memastikan anak makan, memastikan rumah aman dan nyaman.
Mereka bukan tidak bekerja, mereka hanya tidak digaji. Dan sayangnya, ketika perceraian terjadi, posisi mereka sering jadi sangat rentan. Karena selama bertahun-tahun hidupnya bergantung pada penghasilan suami.
Itulah kenapa banyak perempuan bertahan dalam pernikahan yang toxic. Khususnya perempuan yang tinggal di Indonesia ya. Tidak ada dukungan finansial dari pemerintah, tidak ada dukungan tersedianya social worker untuk membantu mental para korban KDRT, misalnya. Mungkin sih ada, cuma gak gamblang diperkenalkan gitu. Jadi banyak orang taunya ya ga ada aja.
Mereka ambil sikap untuk stay, bukan karena bodoh, bukan karena lemah, tapi karena takut. Takut gak bisa makan., takut anaknya kekurangan, takut gak punya tempat tinggal, takut gak mampu hidup sendiri. Menyedihkan bukan?? Ya, sangat!
Dan jujur aja ya… ketakutan itu valid. Kadang orang terlalu gampang ngomong: “Ya udah cerai aja!”
Padahal hidup setelah perceraian itu bukan cuma soal status berubah jadi janda, ada realita yang harus dihadapi.
Tagihan tetap jalan, harga beras tetap naik, anak tetap butuh sekolah, hidup tetap harus lanjut.
Jadi menurutku kita gak perlu naif. Uang memang bukan segalanya. Tapi untuk bertahan hidup, kita tetap perlu uang. Dan itu kenyataan.
Jangan lupa, kitapun perlu menata mental kita. Setelah perceraian biasanya ada fase. Fase denial, fase marah, fase sedih, fase kosong. Lalu pelan-pelan masuk ke fase penerimaan dan pemulihan.
Dan itu gak mudah.
Bahkan untuk sebagian perempuan, bangun dari tempat tidur aja rasanya sudah perjuangan besar. Apalagi kalau selama bertahun-tahun hidupnya hanya fokus mengurus keluarga dan tiba-tiba harus memikirkan semuanya sendiri.
Kadang jiwanya masih capek, masih berat, masih bingung. Makanya aku selalu respect sama perempuan yang akhirnya berani keluar dari hubungan toxic walaupun dia belum punya penghasilan, karena keputusan itu gak gampang.
Orang sering cuma lihat hasil akhirnya: “Oh dia cerai.” Tapi mereka gak lihat pergulatan panjang sebelum keputusan itu diambil.
Tangisan malamnya, ketakutannya, overthinking-nya, dan kadang yang paling menyakitkan… mereka harus pura-pura kuat supaya anaknya gak ikut hancur.
Dalam kasusku sendiri, aku keluar dari pernikahan tanpa punya aset sama sekali ditangan. Aku punya rumah dengan mantan suami, dan kami sepakat untuk menjualnya. Sampai saat ini, rumah itu belum terjual. Jadi ya, kebayang kan pusingnya hehe
Kalau dipikir sekarang kadang suka bengong sendiri juga “Wah… hidup bisa berubah jauh banget ya.”
Aku disupport keluargaku selama masa transisi ini. Dan aku bersyukur banget untuk itu. Tapi jujur aja… ada rasa malu juga. Karena dulu aku terbiasa hidup mandiri dalam versiku sendiri. Sekarang rasanya seperti harus mulai lagi dari nol.
Dan buat perempuan yang pernah merasa “punya hidup mapan”, fase itu cukup menghantam mental. Kadang aku overthinking, kadang ngerasa gagal, kadang merasa hidup teman-teman lain sudah jauh melaju sementara aku masih sibuk menyusun ulang hidupku.
Tapi ya mau gimana… hidup tetap harus jalan.
Jadi aku sadar satu hal: Aku harus bergerak, pelan-pelan gak apa-apa. Yang penting bergerak. Akhirnya aku mulai menulis.
Awalnya bukan untuk cari uang dulu, awalnya lebih karena aku terlalu penuh.
Kalau gak ditulis, rasanya sesak.
Aku mulai journaling, mulai menulis tentang perasaanku, tentang trauma, tentang perceraian, tentang ketakutan sebagai ibu.
Dan ternyata… menulis membantu aku bernapas lagi. Aku jadi lebih mengenal diriku sendiri. Lebih ngerti kenapa aku sedih, kenapa aku takut, kenapa aku mudah attach sama orang. Dan pelan-pelan aku mulai merasa lebih ringan.
Lalu aku berpikir: “Kalau aku memang suka menulis… kenapa gak sekalian dicoba jadi jalan penghasilan?”
![]() |
| Perlahan aku menemukan jalan untuk membangun hidupku kembali |
Akhirnya aku mulai menulis di Medium, lalu Substack, sekarang mencoba menulis Webnovel juga, dan masih menunggu kontrak ditandatangani. Tulisanku, aku kaitkan semuanya dengan social media.
Aku belajar bikin konten, belajar algoritma, belajar engagement.
Yang lucu adalah… di usia sekarang aku malah belajar hal-hal beginian, hadeuh!
Dulu aku pikir hidupku bakal lurus-lurus aja. Eh ternyata sekarang aku malah sibuk mikirin: “Kenapa viewers turun?” “Kenapa posting ini sepi?” “Kenapa save-nya sedikit?”
Hidup memang suka plot twist wkwkw
Setiap 9 hari sekali aku evaluasi. Aku lihat:
- postingan mana yang banyak save
- mana yang banyak share
- mana yang paling relate buat orang
Aku analisa semuanya. Dan walaupun sekarang views TikTok-ku masih sekitar seribuan… buatku itu sudah progress. Karena dulu cuma puluhan.
Aku belajar untuk tidak meremehkan pertumbuhan kecil. Kadang kita terlalu fokus sama hasil besar sampai lupa menghargai langkah kecil. Padahal semua orang besar juga mulai dari kecil.
Jujur aja, sampai sekarang aku masih takut menunjukkan wajahku sepenuhnya. Masih ada insecurity, masih ada takut dihakimi, tapi perlahan aku mulai lebih berani.
Karena aku sadar satu hal: kalau kita terus hidup dalam ketakutan, kita gak akan pernah benar-benar hidup.
Dan aku juga mulai sadar… ternyata masih banyak cara untuk mencari uang. Mungkin jalannya memang gak instan, mungkin butuh waktu.
Tapi bukan berarti tidak mungkin. Sekarang dunia sudah berubah, kita bisa menulis, bikin konten, jual digital product, affiliate, freelance, remote work.
Tapi jujur aja, semua perlu effort untuk belajar. Gak mau belajar ya gak bisa apa-apa. Mau gak mau, harus belajar lagi.
Kadang juga memang belum langsung berhasil, kadang views turun, kadang tulisan sepi pembaca, kadang capek sendiri. Tapi gak apa-apa, karena hidup bukan lomba cepat-cepatan. Tapi aku mah pengen cepet liburan huaaaaaaaa... (maap, keceplosan).
Sekarang fokusku bukan lagi terlihat sukses di mata orang. Aku cuma ingin:
- stabil secara mental
- perlahan stabil secara finansial
- dan menjadi ibu yang lebih sehat untuk anakku
Karena aku sadar… anak gak butuh ibu yang sempurna. Anak butuh ibu yang hidup, yang sehat mentalnya. Yang masih punya harapan, yang masih mau bangkit walaupun pelan-pelan.
Jadi untuk perempuan yang sedang ada di fase ini… yang sedang bingung memulai lagi… yang merasa tertinggal… yang takut soal uang… aku cuma mau bilang: pelan-pelan ya.
Kamu gak gagal, kamu cuma sedang membangun hidupmu lagi dari awal. Dan itu memang butuh waktu.
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.
.png)
.png)
Komentar
Posting Komentar