Menulis Membantuku Menemukan Diriku Lagi

Kegagalan gak ada dalam rencanaku

Dua tahun terakhir mungkin jadi salah satu fase paling berat dalam hidupku. Semua terasa datang  bertubi-tubi. Seperti hidup lagi senang mengetes mentalku sampai batas maksimal. 

Awalnya aku pikir semuanya sudah tersusun rapi.

Aku sudah memutuskan berpisah dari suami. Aku juga sudah punya rencana baru untuk hidupku dan Lili. Aku ingin pergi ke Australia lewat jalur student visa. Aku ingin memulai ulang hidup di tempat baru. Lingkungan baru. Udara baru. Versi diriku yang baru.

Waktu itu aku benar-benar yakin visaku akan approved.

Aku sudah menjual barang-barang bisnis craft dan workshop milikku. Barang-barang yang dulu aku kumpulkan pelan-pelan dengan penuh semangat. Ada rasa sedih sebenarnya waktu menjual semuanya, tapi saat itu aku berpikir: “Gapapa… ini demi hidup baru.”

Aku terlalu fokus melihat garis finish sampai lupa memastikan apakah jalannya benar-benar aman. Dan disitulah aku belajar sesuatu. Kadang kita terlalu percaya pada tampilan luar seseorang.

Waktu itu aku memakai jasa agen yang menurutku meyakinkan. Dia seorang profesional, terlihat religius, dan pembawaannya cukup tenang. Aku pikir itu cukup untuk membuatku merasa aman.

Ternyata… tidak.

Sekarang aku belajar, kalau menyangkut sesuatu yang besar dalam hidup, jangan hanya percaya karena seseorang terlihat baik atau pintar bicara. Lihat track record-nya. Lihat pengalamannya, cari yang memang sudah terbukti bertahun-tahun.

Kalau bisa mengulang waktu, mungkin aku akan memilih agen seperti IDP yang memang sudah jelas sistem dan pengalamannya.

Tapi ya… hidup memang ngajarnya lewat pengalaman ya. Dan ketika visa Australia-ku ditolak, rasanya seperti dunia langsung berhenti. Aku benar-benar tidak punya plan B.

Tidak ada. Aku terlalu yakin akan berangkat. Rasanya malu, kecewa, marah sama diri sendiri, dan yang paling berat… rasa bersalah ke anakku.

Karena di kepalaku waktu itu, aku melakukan semua ini demi masa depan kami berdua. Aku ingin Lili punya kesempatan sekolah di luar negeri. Aku ingin dia punya hidup yang lebih luas dari yang pernah aku punya. 

Jadi waktu semuanya gagal… aku merasa seperti gagal sebagai ibu juga.

Family dan teman-teman ikut sedih. Mereka support aku, mereka mencoba menghibur aku. Tapi tentu saja rasanya berbeda. Karena yang punya mimpi itu aku, yang membayangkan hidup baru itu aku, yang sudah menjual semuanya dan siap pergi itu juga aku.

Jadi ketika semuanya runtuh, yang paling tenggelam ya… aku sendiri. Setelah visa ditolak, aku benar-benar kehilangan energi. Bahkan untuk bangun pagi saja rasanya berat. Bukan malas sebenarnya, lebih seperti… kehilangan arah.

Aku bingung harus mulai dari mana lagi. Kadang aku cuma duduk diam, kadang nangis tiba-tiba, kadang scrolling tanpa tujuan. Dan jujur ya, depresi itu bentuknya nggak selalu dramatis seperti di film.

Kadang bentuknya cuma: tidak punya tenaga untuk hidup seperti biasa. 

Di tengah semua itu, aku tetap mengurus perceraian. Lucu ya hidup, di saat satu mimpi hancur, kita tetap harus jalan terus menyelesaikan masalah lainnya. Dan perceraian itu sendiri juga bukan hal yang ringan.

Bukan cuma kehilangan pasangan, tapi juga kehilangan rasa aman yang aku sangka akan terus ada. 

Walaupun hubungan itu toxic, tetap saja ada rasa takut ketika semuanya benar-benar selesai. Aku rasa banyak orang tidak mengerti bahwa setelah perceraian, yang paling sulit justru bukan statusnya. Tapi membangun ulang diri sendiri.

Sekitar enam bulan setelah visa ditolak, aku mulai menulis. Awalnya cuma untuk meluapkan isi kepala, aku terlalu penuh. Kalau tidak ditulis, rasanya sesak di dada.

Aku menemukan kecintaanku pada menulis - AI Generated

Aku mulai menulis di Medium, kemudian Substack. Dan anehnya… semakin aku menulis, semakin aku merasa hidup lagi. Pelan-pelan percaya diriku mulai balik.

Aku mulai merasa pikiranku masih punya nilai. Perasaanku masih bisa diterjemahkan menjadi sesuatu. Dan ternyata banyak orang relate. Banyak yang diam-diam mengalami rasa yang sama.

Dari situ aku sadar sesuatu: ternyata menulis bukan cuma membantu orang lain merasa ditemani. Menulis juga menyelamatkan aku.

Menulis membuat aku lebih mengenal diriku sendiri. Aku jadi lebih mengerti kenapa aku berpikir seperti ini. Kenapa aku takut ditinggalkan. Kenapa aku begitu keras pada diri sendiri selama bertahun-tahun.

Aku juga mulai belajar memaafkan keadaan. Bukan berarti semua rasa sakit hilang, tapi aku tidak lagi melawan semuanya sekeras dulu.

Aku capek hidup dalam mode survival terus. Sekarang aku hanya ingin hidup dengan lebih tenang. Aku belum punya penghasilan tetap saat ini. Dan jujur, kadang masih takut memikirkan masa depan.

Masih ada malam-malam di mana aku overthinking tentang uang, tentang sekolah Lili, tentang hidup kami ke depan. Tapi sekarang bedanya… aku tidak lagi merasa sepenuhnya kosong.

Aku mulai menemukan sesuatu yang membuatku bertahan. Dan mungkin saat ini… Tuhan kasih kesempatan aku untuk menulis.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti passion-ku akan berubah lagi atau tidak. Hidup bisa berubah kapan saja, orang juga berubah. Tapi untuk sekarang, menulis membuatku bernapas lebih lega.

Dan mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama… aku tidak ingin memaksa diriku lagi. Aku tidak ingin terus hidup hanya untuk survive. Aku ingin merawat diriku sendiri juga.

Karena setelah semua kejadian bertubi-tubi ini, aku sadar satu hal: mental yang sehat itu bukan kemewahan. Itu kebutuhan.  Dan sekarang… aku sedang belajar pelan-pelan untuk sembuh. 

------------------------
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.

Komentar