Sayangnya, kita ini sering banget jadi juri dadakan. Lihat orang → nilai. Lihat cara dia bangkit → komentar. Padahal… kita aja nggak tahu dia lagi berantakan di bagian mana.
Setelah hubungan hancur, setelah rumah tangga bubar, setelah kehilangan yang nggak kelihatan tapi kerasa banget… cara orang bangkit itu beda-beda.
Ada yang kerja kayak dikejar setan. Bukan ambisi… tapi biar nggak sempet mikir. Ada yang nempel terus sama keluarga dan teman. Biar nggak ngerasa sendirian banget. Ada yang olahraga tiap hari. Capek fisik lebih enak daripada capek hati.
Dan… ada juga yang mulai buka chat baru. Kenalan baru. Ngobrol lagi sama lawan jenis.
Nah ini nih… yang paling sering kena semprot netizen kehidupan. Padahal ya… kalau kamu tahu rasanya kehilangan itu kayak apa… yang pelan-pelan makan dari dalam, yang bikin dada sesek tanpa alasan jelas… kamu mungkin nggak akan secepat itu nge-judge.
Biarkan dia. Serius. Biarkan dia senyum lagi walaupun cuma karena “notif masuk”. Biarkan dia ngerasa, “oh… gue masih dianggap ada ya.” Kadang… sesederhana itu.
Itu bukan karena dia “gatel”. Bukan juga karena buru-buru cari pengganti. Justru seringnya… itu cara dia balik ke dirinya sendiri. Dia lagi ngumpulin rasa percaya dirinya yang dulu sempat hancur. Dia lagi belajar percaya lagi, kalau dia masih punya nilai.
Kita ini sering banget pengen orang cepat sembuh. “Udah lah… ikhlasin aja.” “Deketin Tuhan aja.” “Jangan cari pelarian.”
Lah… emang dia nggak doa? Emang dia nggak nangis tiap malam? Emang kamu tahu seberapa keras dia lagi berusaha buat tetap waras?
Yang kadang bikin tambah nyesek… justru datang dari orang-orang yang merasa paling benar. Bawa agama, tapi lupa bawa hati. Ngomongnya tinggi… tapi empatinya tipis.
Padahal ya… orang yang lagi di titik itu, biasanya udah berdoa berkali-kali. Minta kuat. Minta sembuh. Bahkan kadang… minta waktu bisa diputar balik.
Tapi hidup nggak gitu cara kerjanya. Dan hati juga nggak bisa disuruh sembuh pakai timer. Jadi… tolong. Kalau nggak bisa bantu, minimal jangan nambah luka.
Kadang yang mereka butuhin itu bukan ceramah. Cuma… ditemenin. Didengerin tanpa disela. Dipeluk tanpa ditanya-tanya. Dan dibiarkan sembuh… dengan cara mereka sendiri. Karena di fase itu, mereka bukan lagi cari bahagia. Mereka cuma lagi belajar… supaya nggak hancur lagi.

Komentar
Posting Komentar