Seolah-olah… kami bebas, kami mau ngelayap, kami lagi cari laki baru (ya gak salah juga). Padahal? Kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu.
Sekarang memang di kota besar, orang sudah mulai lebih terbuka. Sudah mulai ngerti bahwa perceraian bisa terjadi pada siapa saja. Perempuan religius, perempuan pekerja keras, Ibu rumah tangga. Semua bisa ada di posisi itu.
Yang menarik itu fase setelahnya. Saat kami hancur? Empati datang dari mana-mana. Disupport, dibela, dipeluk.
Tapi… Begitu kami mulai bangkit, mulai kelihatan lebih kuat, mulai merawat diri lagi, tone-nya berubah. Mulai ada cibiran, mulai ada yang godain, mulai ada label-label aneh. Aku ngalamin sendiri.
Di rumah Omku, pekerja rumah, tukang kebun, sampai security mulai manggil aku: “Ibu cantik…” Awalnya sih… ya udah lah ya 😅 siapa juga yang nggak senang dipanggil cantik.
Tapi lama-lama, cara ngomongnya beda. Bukan sekadar sopan, tapi ada nada yang bikin aku merasa nggak dihargai sebagai perempuan.
Belum lagi di komplek, lagi jogging santai, disapa: “Selamat pagi, Bu…” Lanjutannya? “Boleh nemenin nggak?” Nah loh. Ini maksudnya nemenin jogging… atau nemenin hidup?Belum selesai.
Ada juga cerita dari ibu-ibu, katanya suaminya nyebut aku: “Si janda cantik.” Ya ampun Bu… aku harus gimana ya? Mau downgrade jadi jelek aja sekalian? ðŸ˜
Yang kadang orang nggak paham itu ini: Kami merawat diri lagi, kami dandan lagi, kami bangkit lagi… bukan untuk menggoda siapa-siapa. Bukan untuk jadi bahan imajinasi. Kami cuma sedang mengembalikan diri kami yang sempat hilang.
Bertahun-tahun kami bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Dalam rasa yang tidak mudah dijelaskan. Dan ketika akhirnya keluar, itu bukan kemenangan instan. Itu proses panjang. Capek. Sakit. Dan sering kali… sendirian.
Jadi ketika kami mulai terlihat “hidup lagi”, tolong jangan disalahartikan. Kami bukan jadi lebih “liar”. Kami cuma… akhirnya bisa bernapas.
Status janda itu bukan label murahan. Bukan bahan bercandaan. Bukan juga undangan terbuka. Kami tetap perempuan dan kami tetap terhormat.
Kadang ya… hal-hal seperti ini yang bikin aku mikir: “Kayaknya pindah ke luar negeri aja kali ya…” 😌
Biar bisa jogging tanpa ada yang tiba-tiba mau “nemenin hidup”.

Komentar
Posting Komentar