Ternyata masa transisi itu bukan 1–2 bulan ya. Aku kira pindah rumah, adaptasi, selesai. Eh ini sudah bulan ke-4 numpang di keluarga. Dan rasanya? Kayak hidup lagi loading… tapi WiFi-nya lemot.
Yang berat ternyata bukan perceraiannya. Menurutku, yang berat itu kehidupan setelahnya.
Aku tiap hari nangis. Bukan nangis drama di ruang tamu. Bukan nangis depan orang. Nangisnya profesional. Di bawah selimut. Lampu mati. Semua orang sudah tidur. Tipe nangis yang sunyi tapi dalam.
Salah satu pikiranku adalah, Lili aku pindahkan ke homeschooling. Waktu itu rasanya keputusan paling masuk akal. Sekarang?
Aku mulai mikir… jangan-jangan aku salah. Empat bulan homeschooling, dia mulai kangen sekolah. Dia nangis. “Aku pengen sekolah lagi, Ma".
Nah! Itu lebih bikin hati aku hancur daripada perceraian.
Dia pengen ikut club ini itu. Aku ngerti banget. Tapi kalau lagi belum ada dana? Mau daftar club pakai apa? Doa dan niat baik?
Aku cuma berharap rumah cepat laku. Kemarin sudah ada satu keluarga lihat rumah. Mereka kelihatannya suka. Tapi mereka juga lagi lihat dua rumah lain. Kenapa hidup rasanya kayak lagi ikut audisi?
Jam tidurku juga kacau. Pernah nggak tidur sampai jam 6 pagi. Rata-rata jam 1 atau 2 baru bisa merem. Otakku kalau malam aktif banget. Kalau siang malah kayak low battery.Aku banyak berdoa. Banyak mikir, banyak takut. Sekarang aku sendirian sebagai orang tua yang hadir setiap hari buat Lili.
Mantan suamiku video call Lili tiap hari, itu bagus. Lili masih bisa lihat papanya tiap hari.
Sedangkan aku? Ya… aku yang gigit jari hahaha. Tapi aku nggak benar-benar sendirian. Masih ada Tante, masih ada adik yang bisa aku telpon. Masih ada keluarga di sini yang sering ajak makan bareng. Which is good.
Transisi itu nggak mudah. Belasan tahun hidup terasa aman. Sekarang semuanya harus dipikir ulang. Dulu keputusan gak sesulit sekarang.
Capek? Iya. Takut? Iya. Menyerah? Nggak.
Karena walaupun aku nangis di bawah selimut, aku tetap bangun pagi. Tetap jadi ibu, tetap mikir, tetap cari jalan, walaupun orang lain mikirnya "Kok ga ambil keputusan A, B, C, D.. kan tinggal dijalanin!". Gak semudah itu furgoso!
Transisi ini mungkin nggak cepat, mungkin nggak nyaman. Tapi aku percaya satu hal, ini fase. Dan fase itu, se-lama apa pun, pasti lewat.
Dan kalau nanti sudah lewat, aku mungkin akan ketawa dan bilang: “Gila ya dulu aku kuat juga”.

Komentar
Posting Komentar