Anxious Attachment: Ketika Trauma Masa Kecil Membentuk Cara Kita Mencintai

Beberapa waktu terakhir aku banyak membaca tentang anxious attachment. Dan semakin aku baca, semakin aku merasa… jangan-jangan sedikit banyak itu ada di dalam diriku.

Mungkin akarnya jauh sekali ke belakang. Ke masa aku masih sangat kecil. Mamaku pergi ketika aku berusia sekitar 4 tahun. Perginya bukan seperti orang yang pamit. Bukan seperti orang yang menjelaskan. Dia hanya… tidak ada lagi.

Aku bahkan tidak ingat ada percakapan terakhir. Tidak ada kalimat perpisahan. Hari itu seperti hari biasa. Dan keesokan harinya, Mamaku sudah tidak ada di rumah.

Sampai hari ini, aku dan adik-adikku tidak pernah benar-benar tahu alasan kenapa dia pergi. Sejak saat itu aku tidur bersama Tanteku, adik Papa. Aku memanggilnya juga Mama. Buat aku waktu itu, dia memang Mama.

Aku tidur di kamarnya. Dia yang menenangkan aku. Dia yang ada setiap hari. Tapi hidup ternyata suka punya plot twist sendiri. Saat aku berusia 9 tahun, Tanteku menikah dan ikut suaminya pindah ke Belanda. 

Aku masih ingat jelas hari itu di bandara. Aku menangis histeris. Rasanya seperti kehilangan segalanya lagi. Bahkan sekarang, kalau aku mengingat momen itu, dada aku masih terasa sakit.

Di kepala kecilku waktu itu cuma ada satu pertanyaan: “Kenapa aku ditinggalkan lagi?”

Mungkin dari situlah semuanya mulai terbentuk. Aku orang yang sangat mudah attach, tapi juga sangat sulit melepaskan.

Belakangan ini, setelah aku separated dari suami dan akhirnya bercerai dua bulan lalu, aku banyak sekali merenung. Banyak refleksi. Banyak hal yang dulu tidak pernah aku berani hadapi.

Aku sadar setiap orang punya inner child yang terluka. Dan sepertinya… itulah inner child-ku. Lucunya, kesadaran itu baru benar-benar muncul setelah aku dewasa. 

Dua minggu setelah menikah, aku menerima toyoran dan tendangan dari suamiku. Ya, dua minggu. Kalau dipikir sekarang, itu sudah cukup jadi alarm besar. Seharusnya saat itu aku pergi. Tapi aku tidak pergi. Aku bertahan.

Padahal selama 1,5 tahun pacaran sebelumnya dia tidak pernah kasar. Aku tidak pernah membayangkan semua itu akan terjadi. Seiring waktu, masalah demi masalah muncul. Dan yang paling sulit adalah dia tidak bisa diajak berkomunikasi dengan baik. Bayangkan, aku mendampinginya selama 13 tahun.

Sekarang aku mengerti kenapa dulu aku tetap bertahan. Karena sisi anxious dalam diriku terlalu kuat.
Aku takut ditinggalkan. Lebih baik aku menahan sakit setiap hari daripada merasakan kehilangan lagi.
Ditinggalkan terasa jauh lebih menakutkan.

Sekitar satu setengah tahun yang lalu aku mulai refleksi, berdoa lebih kuat. Aku merasa dadaku seperti penuh sekali. Seperti ada sesuatu yang selama ini aku simpan terlalu lama.

Dari proses refleksi itu, aku mulai menyadari trauma inner child yang selama ini tidak pernah benar-benar aku lihat. Aku juga dibantu oleh seorang teman yang punya pengetahuan cukup dalam tentang psikologi trauma. Dia membantu aku melihat semuanya dengan lebih jernih.

Pelan-pelan aku mulai memahami diriku sendiri. Dan dari situ, aku mulai bisa melepaskan suamiku. Bukan karena semuanya tiba-tiba mudah, tapi karena aku sadar, kalau aku terus tinggal di situ, yang akan rusak adalah aku.

Aku tidak mau hidupku habis hanya untuk bertahan. Aku juga punya masa depan, dan Lili juga punya masa depan. Perjuangan untuk benar-benar melepaskan itu memakan waktu hampir dua tahun.

Tapi akhirnya aku bisa. Dan untuk itu, aku bersyukur. Kadang aku berpikir, mungkin pernikahan ini memang datang untuk membuka luka lama yang selama ini tersembunyi. Tanpa pengalaman itu, mungkin aku tidak pernah tahu bahwa aku punya trauma yang perlu disembuhkan.

Sekarang aku masih belajar. Belajar menjadi ibu yang lebih baik. Belajar menjadi wanita yang lebih sehat secara emosional. Dan tentu saja, belajar berdamai dengan diriku sendiri.

Bagaimanapun, aku tetap berharap yang terbaik untuk mantan suamiku. Dan untuk diriku juga.
Karena setelah semua perjalanan ini, aku masih percaya satu hal: Suatu hari nanti, akan ada seseorang yang benar-benar tepat. 

Dan ketika hari itu datang, aku berharap aku sudah menjadi versi diriku yang jauh lebih utuh.

------------------------
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.

Komentar