Tiga bulan lalu aku dan anakku, Lili, pindah ke rumah keluarga.
Rumahnya besar, cukup nyaman, dan yang paling penting: kami masih punya atap buat berteduh. Itu dulu yang aku syukuri.
Yep, yang pindah dari rumah lama aku dan Lili.
Kenapa bukan mantanku? Ya… karena satu dan lain hal.
Lagipula rumah lama itu masih milik kami berdua. Sekarang rumahnya sudah on the market. Tinggal nunggu ada yang beli.
Jujur aja, ini masa transisi yang nggak gampang. Tapi ya dijalanin aja. Sejauh ini masih bisa ketawa-ketawa, walaupun kadang capeknya datang belakangan.
Waktu Papanya Lili tinggal jauh dari kami, aku dan Lili terbiasa tinggal berdua di rumah sendiri, dengan kamar masing-masing. Sekarang kami harus berbagi kamar karena tinggal bareng kerabat lain.
Kerabatku baik banget. Supportif. Nggak ribet sama sekali. Tapi tetap aja, tinggal di rumah orang lain rasanya beda. Ada rasa “numpang” yang nggak bisa dijelasin, cuma bisa dirasain.
Aku masih sering bolak-balik ke rumah lama. Alasannya klasik: Lili kangen rumah. Dan kalau jujur sekalian… aku juga.
Rumah itu penuh kenangan. Mengingat Lili masuk TK pertama kali.
Rumah itu juga aku yang pilih, aku yang pilih desain interiornya, dan usahaku juga pernah tumbuh di dalamnya. Tapi hidup harus jalan terus. Dan aku sedang belajar let go. Transisi ini kami jalanin pelan-pelan. Ada naiknya, ada turunnya.
Turunnya biasanya pas lagi kangen rumah. Untungnya jarak rumah lama cuma sekitar satu jam dari tempat kami sekarang. Jadi rasanya masih “deket”. Belum sepenuhnya ditinggalin.
Sekarang kami tidur di kamar mendiang adik nenekku. Kamarnya masih sama, bahkan baju-bajunya masih tersimpan rapi dilemarinya, padahal sudah ga ada sejak 2 tahun lalu. Aku merapikan lemarinya dan mengisinya dengan baju kami.
Rangka tempat tidurnya sudah tua, miring ke sana-sini dan susah diperbaiki, kecuali beli kayu baru. Kalau Lili tidur, posisi kasurnya agak… ke dalam.
Aku sempat sedih lihatnya. Tapi Lili malah lompat-lompat di situ sambil ketawa. Aku yang malah mikir, “Aduh, ini tempat tidur jangan-jangan tambah rusak.” Akhirnya aku ikut ketawa aja deh. Ya, apa sih yang lebih penting dari lihat anak kita bahagia?
Lili sekarang 13 tahun. Usia transisi dari anak-anak ke remaja. Kadang lucu, kadang bikin mikir, kadang bikin geleng-geleng kepala. Orang tua yang punya anak remaja pasti paham.
Kami juga sering pergi bareng dan hampir selalu dengerin lagu di mobil. Aku tipe yang kalau lagu enak, badan langsung ikut joget. Walaupun sambil nyetir.
Lili? Lempeng. Pakai headset sendiri mode introvert. Tapi ada juga momen kami dengerin lagu bareng. Kalau sudah begitu, mobil bisa mendadak berisik. Nyanyi nggak karuan, tapi senang.
Di mobil juga sering ada drama kecil. Kadang aku iseng, suka bikin Lili kaget. Aku suka teriak “AAAAHHH!” atau bikin suara aneh tiba-tiba. Ibu-ibu yang sering nyetir jauh pasti paham: ngantuk itu musuh utama.
Biar seger. Biar nggak ngantuk. Caraku memang agak aneh. Respon Lili singkat: "Apaan sih ma?!"
Kadang bukan karena ngantuk juga sih… kadang cuma iseng aja aku teriak dimobil, tapi tenang Lili udah terbiasa dan gak selalu aku begitu.
Aku bersyukur banget punya anak seperti dia. Nggak banyak nuntut. Peka. Empatinya tinggi dan ngerti kondisi kami sekarang.
Di saat aku ngerasa hidupku belum sepenuhnya rapi, dia malah jadi penguat tanpa banyak kata.
Bukan berarti dia nggak sedih dengan perpisahan orang tuanya. Dia cuma sedang belajar beradaptasi. Sama seperti aku.
Papa dan Mamanya tetap ada buat dia. Kalau dia butuh, kami selalu ada buat dia.
------------------------
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.

Komentar
Posting Komentar