Visa Australia Ditolak di Usia 40-an: Pelajaran Berharga dari Keputusan yang Terburu-buru

Tahun lalu, waktu aku resmi pisah rumah dengan mantan suamiku, satu hal langsung muncul di kepala: aku ingin pergi.. jauh. Bukan sekadar pindah kota, tapi pindah negara. Aku ingin meninggalkan Indonesia.

Ini bukan karena nggak cinta negeri sendiri, tapi pada saat itu aku merasa stuck, bisnis mandek, keuangan nggak stabil dan mentalku sangat amat lelah. Sepertinya rencana keluar negeri memberikan secercah harapan hidup.

Coba bayangin tinggal bertahun-tahun dengan pasangan yang sering merendahkan apa yang kamu lakukan. Di depan orang banyak, dia terlihat suportif. Tapi saat berdua, kalimatnya bisa berbeda.

“Kamu nggak cocok bisnis". “Nanti juga gagal". Kalimat-kalimat kecil itu lama-lama jadi besar di kepala. Padahal keinginan aku untuk berbisnis sudah ada sejak umur 23 tahun. Itu bukan mimpi kemarin sore, tapi aku gak merasakan support yang tulus darinya. Selalu ada kata-kata yang tidak enak keluar walaupun dia bantu. Tapi lidah lebih berbahaya.

Jadi rasanya… mungkin kalau aku pergi, aku bisa mulai ulang semuanya. Hidup baru, lingkungan baru, cerita baru.

Aku diskusi sama Lili, awalnya dia gak mau, alasannya banyak teman di Indonesia, dan dia gak mau meninggalkan teman-temannya. Aku masih ingin pindah di lubuk hatiku yang paling dalam. Akhirnya 3 bulan kemudian, tanpa aku bujuk sama sekali, Lili datang ke kamarku, dan bilang "Ma, mama masih mau kita keluar negeri? Ayo ma, aku mau deh!". 

Akhirnya aku pilih tiga negara yang mungkin bisa aku dan Lili tinggali. Syarat dari Lili adalah harus negara dengan bahasa nasionalnya adalah bahasa Inggris. Jadi pilihan kami adalah Kanada, New Zealand dan Australia.

Syukurnya dia justru excited. Pilihan kami jatuh pada Melbourne, Australia. 

Aku mulai cari jalan. Aku pikir-pikir aku masih ingin sekolah juga, kenapa gak pakai jalur student, pikirku. Aku bicara dengan mantan suamiku kala itu, dia setuju aja kan baik juga buat Lili. Dan ijin dari ayahnya diperlukan untuk pengurusan visa.

Di usia 43 tahun waktu itu, aku sadar ini nggak ringan. Ini berpotensi ditolak. Apalagi aku lulusan D3 Business Administration, yang di sana dianggap setara SMA. Bukan hanya itu, aku pindah jalur pendidikan. Tapi aku tetap nekat.

Aku putuskan untuk ambil jurusan hospitality. Kupikir, nanti kalau balik ke Indonesia, aku bisa buka restoran atau kalau ada visa kerja, aku bisa lanjut bekerja di industri hospitality di luar negeri.

Ini bukan cuma soal aku. Aku juga ingin Lili punya pengalaman global. Lingkungan baru. Cara pandang yang lebih luas. Kenapa nggak? Pengalaman ini akan bagus untuk Lili di masa depan.

Singkat cerita, aku pakai jasa agen. Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Dokumen diproses. Janji manis berderet. Lama-lama respon mereka melambat. Dan aku mulai cemas. Setelah aku cek ternyata mereka agen baru yang belum berpengalaman mengurus client usia aku yang mau sekolah lagi. 

Saat itu aku belum resmi bercerai, tapi sudah sepakat berpisah dan tidak serumah. Di kondisi seperti itu, aku ingin kabur secepat mungkin. Dan di situlah kesalahanku. Aku terlalu terburu-buru. Aku ingin semuanya cepat selesai, terutama hubungan aku dengan mantan suamiku.

Cepat pindah. Cepat berubah suasana. Hasilnya? Visaku ditolak oleh Kedutaan Australia. Pukulan itu… luar biasa. Berbulan-bulan aku masih menangis jika mengingat hal tersebut. Rasanya seperti patah hati.

Di kepalaku, aku sudah membayangkan hidup baru. Rumah baru, udara baru. Dua bulan setelah penolakan itu, aku akhirnya menggugat cerai. Awalnya aku berharap dia yang menceraikan aku. Aku menunggu… belasan tahun. Ternyata nggak pernah terjadi. Jadi kali ini aku yang bergerak. Aku finalisasi sendiri.

Masalahnya, aku sudah menjual barang-barang bisnisku dan aku stop dari bisnis yang aku jalankan sudah dua tahun. Plus, aku juga sudah keluar dari rumah karena yakin akan berangkat. Aku pindah ke rumah keluarga yang rumahnya dekat airport. Sementara mantan suamiku tetap tinggal di rumah kami dan dia tidak ingin meninggalkan rumah. Egois bukan?! Jadi, aku dan Lili yang menyingkir dari rumah kami.

Semua terasa seperti domino yang jatuh satu-satu. Sampai sekarang, aku masih ingin tinggal di  Australia. Keinginan itu belum mati. Tapi mungkin… bukan sekarang waktunya.

Yang aku pelajari? Jangan terburu-buru. Kalau menyangkut hal besar dalam hidup, keputusan yang diambil karena panik atau ingin kabur sering kali hasilnya kurang baik.

Sekarang aku sedang di fase merenung. Menulis. Belajar pelan-pelan berdamai. Aku nggak mau lagi terlalu keras sama diri sendiri. Aku tahu nanti akan ada waktunya, aku akan menyusun rencana lagi. Bukan karena ingin lari. Tapi karena memang sudah siap. Dan kali ini, aku ingin melangkah bukan karena luka, tapi karena sadar.

------------------------
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.

Komentar