Kesepian Setelah Bercerai: Kenapa Tetap Terasa Walau Tidak Sendiri?

Pisah dari suami itu rasanya seperti dibukain mata. Bukan langsung sakit. Bukan langsung lega.

Tapi pelan-pelan sadar: ternyata selama ini aku kesepian.

Aneh rasanya mengakui itu. Karena seumur hidup, aku nggak pernah merasa kesepian sedalam ini.

Aku percaya ini bukan kesepian yang muncul tiba-tiba. Ini akumulasi dari hampir lima belas tahun menikah, tapi tanpa hubungan yang benar-benar sehat.

Aku tipe yang suka ngobrol. Ngobrol yang beneran ngobrol. Yang mikir, yang diskusi, yang saling lempar sudut pandang.

Sementara mantan suamiku tidak seperti itu. Buat dia, obrolan semacam itu ribet.

Padahal menurutku, justru di situlah hubungan bertumbuh. 

Sekadar tanya mau makan apa, sudah makan atau belum, itu bukan komunikasi yang aku rindukan. Itu terlalu dasar. Terlalu basa-basi.

Aku merindukan pembicaraan yang setara. Yang ketika aku bertanya, jawabannya bukan kemarahan. Bukan defensif. Tapi pemikiran.

Aku suka berdiskusi. Suka belajar dari hal yang belum aku tahu. Dan di matanya, itu membuatku jadi orang yang “terlalu ribet”.

Di situlah kesepian mulai tumbuh. Dan bertambah hari demi hari. 

Bukan sepi rumah. Bukan sepi karena sendirian secara fisik. Tapi sepi yang muncul ketika hubungan  tidak lagi menjadi tempat berbagi.

Dulu aku nggak percaya soal kesepian. Aku pikir orang-orang cuma melebih-lebihkan perasaan mereka. Ternyata tidak.

Kesepian ini tidak bisa diselesaikan dengan sibuk. Tidak hilang hanya karena anak ada. Dan tidak selesai hanya karena keluarga mendukung.

Walaupun dari luar semuanya terlihat lengkap, tetap ada ruang yang tidak terisi. Di titik itu aku berhenti menghindar dan mulai bertanya dengan jujur ke diri sendiri: sebenarnya aku butuh apa?

Jawabannya ternyata sederhana. Aku hanya butuh teman lawan jenis untuk berbicara. 

Bukan untuk diselamatkan. Bukan untuk menggantungkan hidup. Hanya percakapan yang hadir. Respons yang nyata. Perhatian yang datang dengan wajar. 

Aku membayangkan bisa bicara apapun dengan lawan bicara, dari politik, budaya, makanan, hal-hal lucu, dan hal-hal yang vulgar yang tidak dibahas sesama perempuan, tetapi hanya dengan pasangan.

Bukankah itu hal yang membahagiakan?!

Ketika aku menoleh ke belakang, aku bisa menerima bahwa pernikahanku dulu memang tidak sehat. Secara fisik kami bersama. Tapi secara emosional, kami berada dititik yang jauh sekali.

Kesepian yang terasa sekarang adalah hasil dari bertahun-tahun menahan rasa itu.

Sejak menikah, aku sering merasa tidak benar-benar ditemani. Mantan suamiku punya dunianya sendiri. Dan aku tidak ada di dalamnya.

Aku mencoba bicara. Mencoba terbuka. Mencoba berkomunikasi sebaik yang aku bisa. Yang kuterima justru jarak.

Aku diminta mengurus hidupku sendiri, tanpa melibatkan dia. Ironis.

Menikah, tapi hidup sendiri. Selama bertahun-tahun aku memilih bertahan.

Mengalah.

Menjaga agar rumah tangga tetap utuh.

Bukan karena aku lemah, tapi karena aku percaya pada komitmen. Dan ketika aku berhenti, itu bukan kegagalan. Itu kelelahan yang akhirnya aku akui.

Banyak orang berkata, “Kamu harus lebih dekat lagi sama Tuhan.”

Padahal jujur, pada waktu itu aku tidak jauh dari Tuhan. Aku tidak marah karena situasi tidak sesuai dengan yang aku mau, tidak kabur karena kecewa.

Aku tetap berdoa. Aku tetap berserah. Aku belajar menerima hidup apa adanya.

Tapi kedekatan spiritual tidak otomatis menghapus kebutuhan manusia untuk terhubung.

Aku tahu aku bisa hidup mandiri. Aku bisa membesarkan anakku. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Aku sudah melakukannya sejak lama.

Tapi mampu berdiri sendiri tidak berarti harus menutup diri.

Aku tidak kehilangan jati diriku hanya karena aku mengakui kesepian.

Aku tidak menjadi lemah hanya karena aku ingin terhubung.

Aku tetap utuh. Aku hanya jujur.

Aku tidak mencari seseorang untuk bergantung. Aku tidak ingin diselamatkan.

Aku hanya ingin didekati. Didengar tanpa dihakimi. Dirasakan keberadaannya.

Bukan untuk dimanja. Bukan untuk mengisi kekosongan dengan siapa saja.

Hanya ingin berbagi ruang dengan cara yang sadar.

Kesepian.

Banyak orang mengalaminya, termasuk mereka yang punya pasangan.

Bedanya, banyak yang memilih tidak mengakuinya. 

Aku tidak mau berbohong pada diri sendiri.

Dan sekarang, aku bisa menyebutnya apa adanya.

Dulu, aku pernah kesepian.

------------------------
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.

Komentar