Masa Transisi Setelah Perceraian: Belajar Hidup Mandiri Bersama Anak

Sejak aku dan Lili pindah ke BSD, yang artinya pindah rumah sekaligus pindah kota dari Bekasi, aku baru sadar satu hal: pindah itu bukan cuma soal pindahin barang doang.

Yang ikut pindah ternyata banyak. Rutinitas, cara belajar, cara cape sampai cara aku berdamai sama hidup.

Awalnya aku pikir ini cuma adaptasi sebentar aja, mungkin satu atau dua minggu.

Ternyata transisinya panjang, dan isinya bukan hal besar yang dramatis, tapi perubahan-perubahan kecil yang pelan-pelan kerasa.

Perubahan pertama yang paling terasa: sekolah pindah ke rumah. Yep, Lili sekarang homeschooling. Alasannya sederhana. Dia sudah cukup tahu apa yang dia mau, dan aku pengen dia punya waktu lebih luas buat eksplor apa minatnya.

Sekolah formal sebenarnya nggak salah. Tapi dari pagi sampai sore habis di sana, pulang sudah sisa tenaga. Dia udah cape untuk ambil kegiatan lain yang dia suka. 

Ini bukan soal sistem mana yang paling benar. Ini soal apa yang paling masuk akal buat kondisi kami sekarang.

Lagi pula, sejak bercerai, aku sendiri juga belum tahu kami akan benar-benar menetap di mana. Tempat tinggal ini pun rasanya masih tempat singgah untuk beberapa bulan, atau mungkin beberapa tahun aja sampai suatu hari kami nemu tempat yang rasanya tenang, bukan cuma nyaman buat kami berdua.

Bulan pertama homeschooling itu… jujur aja, berantakan. Aku bikin homeschooling kayak sekolah dipindahin ke rumah, lengkap dengan jadwal rapi dan target ambisius. Yang capek siapa? Aku sendiri, sementara Lili bingung.

Akhirnya aku turunin ekspektasi. Aku pilih guru les sesuai minat Lili dan cita-citanya. Jadwal sempat tabrakan, guru kadang berhalangan, dan aku sempat overwhelmed mengatur jadwal.

Sekarang sudah masuk bulan keempat. Aku nggak panik lagi kalau jadwal berubah. Tinggal geser aja. Hidup lagi ngajarin untuk lebih fleksibel bukan kaku dan monoton.

Di luar pelajaran, aku juga mulai melatih Lili buat lebih mandiri. Masih sering struggle, iya!

Tapi ada kemajuan kecil yang bikin aku senyum sendiri. Dia sudah rutin cuci piring, journaling tanpa disuruh, dan kalau diminta tolong jauh lebih sigap dari biasanya. Masih perlu diingetin? Pasti.

Tapi aku ingat, buat dia juga nggak gampang. Pindah kota, belum punya teman baru, hidupnya berubah total. Jadi aku belajar lebih pelan dan lebih sabar.

Perubahan berikutnya datang dari lingkungan. Kami tinggal dekat keluarga besar, yang artinya… banyak acara! Untungnya sepupu-sepupuku suportif banget. Aku dan Lili sering diajak keluar, makan bareng, dan kita punya rutinitas "movie-night" bareng Om dan Tanteku almost every weekend.

Rasanya hangat aja. Kayak hidup pelan-pelan bilang, “Tenang, kamu nggak sendirian.”

Mungkin karena itu juga, aku jadi lebih sering keluar. Sosialisasi. Ketemu teman lama, kenal teman baru dan aku menikmatinya.

Bahkan aku sempat ke bar bareng teman. Setelah puluhan tahun nggak ke sana, rasanya seperti bisa bernafas lagi dari kesesakan.

Tenang, ini bukan dugem. Ini versi dewasa: datang, dengerin musik, minum sewajarnya, lalu pulang sebelum badan ngasih kode. Surprisingly, ga ngantuk dan ga cape padahal pulang jam 4 pagi. Sesekali tidak apa menurutku, mahal juga lagian.

Kalau dengan Lili, kami mulai nonton live music bareng. Mungkin sekarang udah gak kehitung berapa kali kami ke cafe yang ada live music-nya. Dan entah dorongan dari mana, Lili selalu maju ke panggung untuk jadi penyanyi dadakan.

Aku sempat ikut coba maju juga, maju ke depan, nyanyi lagu kesukaan. Awalnya sih pede, tapi begitu mulai nyanyi… aku sadar satu hal penting: ada alasan kenapa selama ini aku cuma nyanyi di kamar mandi.

Sejak itu aku memutuskan cukup Lili aja yang lanjut. Aku bagian tepuk tangan dan tim hore.

Perubahan terakhir, yang paling aku rasakan adalah aku jadi lebih terbuka, lebih percaya diri, dan lebih apa adanya. Aku ga tau dengan begini, banyak kejadian baik terus berdatangan sama aku dan Lili.

Dulu, hidup aku penuh keraguan dan terlalu banyak mikir, merendahkan diri sendiri, takut salah dan ga enakan sama orang. Aku percaya itu karena imbas dari terlalu lama tinggal di lingkungan yang salah.

Aku belajar satu hal sederhana: circle yang tepat bikin kamu tumbuh. Circle yang salah bikin kamu mengecil pelan-pelan, dan lama-lama bisa hilang jati dirimu.

Hidup itu pilihan. Dan kali ini, aku memilih dengan sadar.

Dan sejauh ini…

Aku baik-baik saja dengan pilihanku.

------------------------
Jika tulisan ini relate dengan kamu, atau kamu mau support aku, kamu bisa traktir aku cendol dengan klik disini.

Komentar